Categories
Kajian Islam Tashowuf dan Thoriqoh

MUHASABAH DIRI AKHIR TAHUN 2018: MELURUSKAN NIAT, MENYEHATKAN AKAL

Oleh: Bagus Setiawan (Ketua An Najmus Tsaqib)

Mengingat sejauh mana waktu telah berjalan adalah hal penting yang harus diperhatikan umat Islam. Setiap detik waktu yang telah kita lewati serta apa saja yang telah kita perbuat dalam mengisi waktu tersebut, merupakan hisab bagi diri kita, dan pada saat bersamaan, menjadi bekal dan pelajaran bagi mereka yang berpikir untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri memasuki waktu yang akan datang, memasuki kehidupan baru setelah kematian.

Terkait pentingnya waktu Alloh SWT bahkan telah bersumpah atas nama waktu dalam firmanNya:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

 Artinya: “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)

Dalam surat tersebut, Alloh SWT menjadikan waktu yang telah kita lewati sebagai saksi atas apa-apa yang telah kita kerjakan serta menetapkan manusia yang mendapati kerugian karena tidak mampu mempergunakan waktu yang mereka miliki dengan baik. Manusia dapat menghindari kerugian dalam menggunakan waktu tersebut jika masuk ke dalam golongan manusia yang memenuhi 3 unsur berikut:

  • Manusia yang beriman;
  • Manusia yang saling menasehati untuk kebenaran;
  • Manusia yang saling menasehati untuk kesabaran.

Manusia yang beriman ditetapkan dalam urutan yang pertama, yang menunjukan skala prioritas, yang bisa diartikan bahwa sebelum kita menasehati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, diri kita sendiri harus terlebih dahulu berada dalam iman, masuk ke dalam laa ilaha ilallah, kalimatul iman, secara kaffah. Aspek iman ini berkaitan erat dengan pembahasan muhasabah diri, karena sejatinya yang mengetahui kadar keimanan kita tidak lain hanyalah diri kita sendiri dan Alloh SWT.

Melakukan muhasabah terhadap diri, menjadi salah satu jalan untuk mendorong kita menjadi benar-benar seorang hamba Alloh SWT yang beriman. Dengan melakukan muhasabah diri, kita bisa mengukur apakah diri kita telah memenuhi ciri dan tanda apa yang disebut dengan orang yang beriman. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّۭا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al-Anfal ayat 2-4).

Lihatlah kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita memenuhi ciri orang-orang beriman seperti yang ditetapkan oleh Alloh SWT???

Dalam ayat di atas terdapat 3 ciri utama orang-orang yang benar-benar beriman, yang pertama dan utama adalah orang yang ketika disebutkan nama Alloh SWT, maka gemetarlah hati mereka. Orang beriman adalah mereka yang ketika mendengar kalimatul iman dilafadzkan secara dhohir, maka hatinya ikut berdzikir (ingat) kepada Alloh SWT. Dalam konteks ini, orang beriman adalah mereka yang selalu ingat kepada Alloh SWT, mereka yang selalu berdzikir kepada Alloh SWT dalam berbagai kondisi dan situasi, baik secara dhohir maupun batin. Di hati mereka telah tertanam kalimatul iman “laa ilaha ilallah” sehingga hati mereka akan terus dzikir (ingat) kepada Alloh SWT.

Dengan hati yang selalu dzikir (ingat) kepada Alloh SWT maka berbuahlah menjadi akhlak yang baik, mendorong kita untuk memunculkan ciri-ciri orang beriman berikutnya. Membuat kita menjadi orang yang selalu tawakal kepada Alloh SWT, menerima segala apa yang ditetapkan oleh Alloh SWT, mendorong kita untuk ringan menegakan sholat dan menyisihkan sebagian rizki kita, besar atau kecil.

Oleh karena ciri iman yang utama letaknya di dalam hati, maka melalui muhasabahlah kita dapat mengetahui apakah benar kita sudah masuk dalam golongan orang-orang yang beriman, atau mungkin iman kita baru sebatas simbol dan ucapan saja?

Mari kita lihat fenomena umat Islam hari ini sebagai bahan renungan kita bersama, khususnya di negeri kita sendiri, Indonesia. Hari ini kita melihat bagaimana ghiroh umat Islam di Indonesia untuk menegakan kalimatul iman, kalimah tauhid, laa ilaha ilallah, telah berkembang dan meningkat secara pesat, terakhir dapat kita saksikan pada peristiwa Reuni 212 beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, tentu saja ini merupakan hal yang sangat menggembirakan kita semua selaku umat Islam. Kalimatul iman secara perlahan telah menjadi simbol terbentuknya ukhuwah diantara umat Islam di Indonesia.

Meskipun demikian, setelah itu semua, perlulah kita melakukan muhasabah diri, mengukur diri kita sendiri, benarkah kita telah masuk dalam golongan orang yang beriman? Mari kita menilik ke dalam hati kita sendiri, apa kalimah tauhid tersebut sudah ada dalam hati kita. Seberapa banyak hati kita dzikir (ingat) kepada Alloh SWT? Atau jangan-jangan ketika kita merasa telah menjadi orang yang beriman dengan membela simbol-simbol tauhid, ternyata hati kita lupa kepada Alloh SWT, dengan menyatakan bahwa inilah saya orang yang benar, orang yang beriman, yang tidak sejalan dengan saya adalah orang yang salah, orang yang sesat, atau ketika kita membela simbol-simbol tauhid ternyata niat kita bukan lillahita’ala, akan tetapi niat-niat lain, yang kita ingat justru hal yang bersifat duniawi. Fokus kita kemudian tidak lagi kepada Alloh SWT, tetapi kepada hal remeh temeh duniawi seperti Pilpres, gerakan menegakan khilafah, perdebatan besar kecilnya jumlah massa, dan lain-lain, lalu merasa itu semua adalah karena hasil upaya kita, naudzubillah…kita semua lupa bahwa tidak sehelai pun daun yang jatuh ke bumi tanpa seijin Alloh SWT, bahwa hakikatnya kita tidak memiliki daya dan upaya.

Semua hal di atas hanya mungkin kita dapati jawabannya dengan melakukan muhasabah diri. Jangan sampai apa yang telah kita kerjakan, dikarenakan hati yang lupa kepada Alloh SWT, niat yang tidak lurus, niat yang tidak ikhlas semata-mata karena Alloh SWT, justru menjerumuskan kita masuk kepada sikap sombong bahkan munafik. Jika kita temukan bahwa diri kita menyimpang, diri kita ternyata belum sepenuhnya menjadi orang yang beriman, maka sudah sepatutnya lah kita perbaiki, akan tetapi jika kita temukan diri kita telah berada pada jalur yang benar, hati yang dzikir (ingat) kepada Alloh SWT, niat yang lurus, maka sepatutnya kita perkuat iman tersebut dengan meningkatkan amal ibadah kita.

Tolak ukur niat yang lurus atau tidak selain melihat ke dalam diri kita sendiri, juga dapat kita lihat dari sikap kita yang dihasilkan dari niat tersebut. Sebagai contoh, kembali kepada masalah bangkitnya ghirah umat Islam Indonesia, apakah dengan semakin kuatnya pembelaan kita terhadap kalimah tauhid membuat kita menjadi bersikap lebih beradab dan mengedepankan akhlak? Mari kita lihat, masih banyak dari kita yang semangat membela kalimah tauhid, pada saat bersamaan masih sering terlibat perdebatan di ruang-ruang publik yang lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya, yang kemudian meninggalkan akhlak dan adab. Kemudian, kita juga bisa menyaksikan secara jelas, hampir setiap hari, setiap jam, di lini media sosial, kita yang mengaku membela kalimah tauhid masih terjebak dalam sikap saling menjelekan satu sama lain, bukan karena Alloh SWT, tapi karena perbedaan pilihan politik, karena kebodohan dan matinya akal sehat kita. Kita yang merasa membela kalimah tauhid, begitu mudahnya menyebarkan sentimen-sentimen kebencian, lagi-lagi karena niat yang tidak lurus dan matinya akal sehat.

Masih maraknya fenomena ini, menuntut kita untuk melakukan muhasabah diri, menilai diri kita sendiri dan berhenti sejenak menilai orang lain. Jangan sampai dengan perasaan sombong kita karena merasa benar, kita kemudian terus menilai orang lain dan menyatakan orang lain salah serta buruk dan lupa menilai diri sendiri. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam menyatakan:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu.” (HR. Tirmidzi).

Semua yang kita perbuat, baik perbuatan hati maupun perbuatan jasad kita, semua akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Oleh karena itu, seringlah melakukan muhasabah diri, tidak hanya dalam momentum pergantian tahun ini, akan tetapi sesering mungkin, agar kita mampu terus mengukur kadar keimanan kita masing-masing, agar kita terhindar dari niat yang tidak lurus yang menyebabkan akal kita menjadi tidak sehat, menyebabkan kita terjerumus dalam golongan orang-orang yang munafik.

Sebagai penutup, mari kita sama-sama renungi dan kembali menilai diri kita sendiri, menghitung diri kita sendiri, sebelum kita dihisab di akhirat kelak. Mari kita jaga hati kita untuk selalu dzikir (ingat) kepada Alloh SWT, sehingga segala apa yang kita niatkan itu semata-mata karena Alloh SWT, bukan karena hal-hal duniawi yang dibungkus dengan simbol-simbol agama, sehingga akal kita tetap sehat sehingga mampu menempatkan adab dan akhlak dalam setiap hubungan kita dengan sesama manusia.

Semoga selalu diberkahi segalanya, semuanya, selamanya…bikarrommati Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS., Al Fatihah…

wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Categories
Agenda Kegiatan Tashowuf dan Thoriqoh

MANAQIB INTERNASIONAL 2017

 

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabaraokatuh…

Dalam rangka Maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wassalam, untuk ketahanan nasional NKRI, kejayaan agama dan negara, serta untuk peradaban dunia. Kami mengundang ikhwan-akhwat sekalian untuk menghadiri manaqib internasional yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 04 Nopember 2017 di Mesjid Raya Jawa Barat, alun-alun Bandung.

Kegiatan akan dihadiri oleh Hadrotusyeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS mursyid ke-38 TQN PP Suryalaya, para wakil talqin TQN PP Suryalaya dalam dan dan luar negeri, serta para pemangku manaqinb seluruh Indonesia. Rencana kegiatan juga akan dihadri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Mari kita penuhi Mesjid Raya Jawa Barat dengan dzikir, demi Indonesia yang lebih baik, robbana afrigh ‘alaina shobron wa tsabit aqdhomana wanshurna ‘alal qoumil kafiirin…

wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

 

Categories
Tashowuf dan Thoriqoh

HAKIKAT KHUSYU

KHUSYU’ menurut bahasa berarti tunduk, takluk, menyerah.
Menurut Syaikh Aljurjani :
الخاشع المتواضع لله بقلبه وجوارحه
Orang yang khusyu’ adalah orang yang tawadhu / merendah kepada Alloh dengan hati dan seluruh badannya.
Khusyu identik dengan ibadah sholat.
Padahal sesungguhnya khusyu harus ada
1. Di dalam Sholat
2. Di luar Sholat
Hadrot Syaikh Muhammad Abdul Gaos Ra.qs bersabda:
12 tahun sebelum ada sholat, Alloh telah mengajarkan khusyu’.
Bagaimana mungkin bisa khusyu ketika Sholat yang hanya 5 menit, jika diluar sholat tidak bisa khusyu’.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ……
Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu hatinya dengan dzikir kepada Alloh…. [Surat Al-Hadid 16]
Ayat ini menerangkan khusyu secara muthlaq ketika sholat ataupun di luar sholat.
Adapun cara khusyu’ ketika sholat diterangkan dengan ayat ini
(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ *
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ)
Dan minta tolonglah kalian dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya sholat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.
Yaitu orang-orang yang yakin sesungguhnya mereka sedang bertemu dengan Alloh dan sesungguhnya mereka kembali kepada Alloh.
[Surat Al-Baqarah 45-46]
Intinya khusyu’ itu berkaitan dengan ingat kepada Alloh alias dzikir kepada Alloh.
(إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي)
Sesungguhnya Aku adalah Alloh. Tiada Tuhan selain Aku.
Maka sembahlah Aku…..
Dan tegakkan sholat untuk mengingatku (untuk Dzikir kepada Ku….) [Surat Thoha 14]
Sedangkan dzikir ada caranya dan harus ada pembimbingnya…
Yang tidak tahu cara Dzikir harus bertanya ke ahli dzikir …jangan salah nanya….
(…….ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ)
Bertanyalah pada Ahli dzikir jika kalian tidak tahu….. [Surat An-Nahl 43]
Memang sebagian ulama menjelaskan cara khusyu ‘ diantaranya:
  1. Tundukkan kepala lihat sajadah jangan lihat kemana-mana….Itu benar… tapi itu tidak menjamin khusyu hati…Terkadang dengan melihat tempat sujud (sajadah) malah ingat pabrik sajadah, harga sajadah, beli sajadah ini dimana…. kadang jadi mikir gambar sajadah…. lalu siapa yang menggambar di sajadah ini…. dll…
  2. Konsentrasi pada bacaan, fahami arti bacaan sholat…Itu juga benar… tapi kasihan mayoritas muslim orang-orang yang tidak faham bahasa arab….dan ini juga tidak menjamin ingat kepada Alloh… karena bacaan sholat diantaranya al-quran beragam isinya, tidak hanya tentang Alloh….Ibadah, cari nafkah, alam semesta, Rizki, tumbuhan, hewan dll… semua ada di alqur’an.
  3. Ingat lah surga dan neraka ketika sholat …. itu juga benar …bisa membantu khusyu badan kita, tapi tidak menjamin ingat kepada Alloh.. malah ingat bidadari yang cantik-cantik…. dst.

 

Tetap tidak bisa tidak….!
Sholat wajib khusyu’
1. Khusyu’ badannya
2. Khusyu’ hatinya.
dan inti khusyu’ hati itu Dzikir.
Dzikir harus ditalqinkan oleh Ahlinya…..
Tanpa ditalqin dzikir, seumur hidup tidak akan pernah tahu khusyu….
Tanpa di TALQIN dzikir, semua keterangan tentang khusyu’ hanya jadi teori…
Walaupun bodoh tidak faham bacaan sholat kalau sudah ditalqin, sudah punya alat khusyu….
Hadrot Syaikh Muhammad Abdul Gaos Ra.qs bersabda:
Khusyu’ bukan nangis. Nangis bukan khusyu’.
Nangis hanya reaksi dari khusyu’.
Nangis karena sakit hati, karena putus cinta, karena ingin “sesuatu “…. itu bukan khusyu’, itu cengeng, jangan dibawa dalam sholat…
KHUSYU’ ADALAH DZIKIR KHOFI
DZIKIR KHOFI ADALAH HAKIKAT KHUSYU’
تعوذوا بالله من خشوع النفاق.. قالوا وما خشوع النفاق يا رسول الله ؟ قال خشوع البدن نفاق القلب
Berlindunglah kalian kepada Alloh dari khusyu munafik.
Sahabat bertanya:
Apa khusyu munafik itu wahai Rasulullah….?
Rasulullah saw menjawab:
Yaitu khusyu badannya munafik hatinya.
(HR. AHMAD)
============
Ahluttalqin Ahluddzikri Guru Khusyu’ Zaman ini ialah.
Hadrotussyaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul …… رضي الله عنه وقدس الله سره
Penulis: Muhammad Aang Rahmat
Categories
Agenda Kegiatan Informasi Islam Tashowuf dan Thoriqoh

UNDANGAN: MANAQIB DAN SEMINAR INTERNASIONAL, KAMIS 3 AGUSTUS 2017

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Dalam rangka maulid Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam dan untuk ketahanan nasional NKRI, kejayaan agama dan negara, serta untuk peradaban dunia, manaqib kubro rutin Thoriqoh Qodiriyah Naqshabandiyah PP Suryalaya di Pesantren Sirnarasa akan diselenggarakan bersamaan dengan Seminar Internasional dengan tema: “The State and Sufism: One Voice for Saving World Civilization”.
Dengan ini mengundang ikhwan-akhwat TQN PP Suryalaya untuk hadir dalam kegiatan tersebut yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017, mulai pukul 07.00 WIB, di Pesantren Sirnarasa, Ciceuri, Panjalu, Ciamis.
Beberapa pembicara yang akan hadir adalah sebagai berikut:
  1. Syeikh Azis Abdin al Husaini, Ph.D. (California), merupakan Profesor di bidang ilmu hadist, ushul fiqh, dan ilmu al Qu’ran di America Open University of USA. Beliau juga merupakan Imam dan Direktur dari Islamic Centre, el Centro California;
  2. Syeikh Azis El-Kobaithi Edrissi Ph, D. (Maroko), merupakan Presiden dari International Academic Center of Sufi and Aesthic Studies;
  3. Ezzaher El-Hasaane, Ph.D, merupakan Dekan Sharia University in Fez;
  4. Prof. Drs. Subandi, M.A. Ph.,D., merupakan Guru Besar UGM sekaligus Wakil Talqin Syeikh TQN PP Suryalaya.
Bertindak sebagai moderator dalam kegiatan seminar adalah KH. Budi Rahman Hakim (Abah Jagat), Pembantu Khusus Abah Aos dan Wakil talqin Syeikh TQN PP Suryalaya.
Bersyukur setinggi suryalaya, sedalam sirnarasa…bikarrommati Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Quthub, al Fatihah…
Categories
Tashowuf dan Thoriqoh

MUKJIZAT RASULULLOH DAN FIRMAN ALLOH DALAM 360 SENDI MANUSIA

Sabda Rasululloh tentang Sendi Manusia dan Sedekah

Diriwayatkan dari A’isyah ra.: sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya setiap manusia dari kalangan anak turun Adam diciptakan dengan 360 sendi. Barangsiapa yang bertakbir memahabesarkan Allah, bertahmid memuji Allah, bertasbih menyucikan Allah, dan beristighfar memohon ampunan kepada Allah, menyingkirkan batu dari jalanan, atau (menyingkirkan) duri atau tulang dari tengah jalanan, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran, sejumlah 360 sendi tersebut, maka hari itu ia telah berjalan sembari menjauhkan dirinya dari neraka.” (Shahih Muslim: 1007, 2/698).

Hadist ini dilontarkan pada awal abad ke-7, sementara kita sekarang ini berada di awal abad ke-21, dan masih banyak bahkan sebagian besar manusia modern tidak mengetahui jumlah sendi di dalam tubuh manusia. Sejumlah profesor ahli kedokteran dan bedah tulang pada awal abad ke-21 pun tidak mengetahui secara pasti jumlah tulang maupun sendi di dalam tubuh manusia. Kami telah mencoba meng-konfirmasikan hal ini kepada sebagian besar profesor ahli ini, namun jawaban mereka berkisar antara 200-300 tulang dan antara 100-300 sendi.

Dr. Hamid menjelaskan adapun jumlah definitif persendian badan bisa kita hitung sebagai berikut:

Tulang belakang, memiliki 147 sendi: 25 sendi antartulang belakang, 72 sendi antara tulang belakang dan tulang rusuk dan 50 sendi antartulang belakang pada jalan makanan samping.

Dada, memiliki 24 sendi: 2 sendi antara tulang dada dan rongga dada, 18 sendi antara tulang dada dan kepala, 2 sendi antara tulang selangka dan belikat dan 2 sendi antara belikat dan tulang batang dada.

Bagian atas tubuh, memiliki 86 sendi: 2 sendi antara tulang bahu, 6 sendi antara tulang siku, 8 sendi antara tulang pergelangan tangan dan 70 sendi antara tulang-tulang tangan.

Bagian bawah tubuh, memiliki 92 sendi: 2 sendi tulang paha, 6 sendi antara tulang-tulang dua lutut,6 sendi antara pergelangan kaki, 74 sendi antara tulang-tulang telapak kaki dan 4 sendi antara tulang lutut.

Daerah sekitar perut, memiliki 11 sendi: 4 sendi antara tulang ekor, 6 sendi antara tulang pingguldan 1 sendi antara sambungan tulang kemaluan.

Jumlah keseluruhan adalah: 147+24+86++92+11=360

Semua sendi-sendi yang terdapat pada tubuh manusia ini mampu bergerak secara sistematis sehingga manusia sangat fleksibel dalam pergerakannya. Adapun sendi-sendi yang tertanam di antara tulang tengkorak tidak termasuk dalam sendi-sendi pergerakan bebas pada tulang-tulang manusia yang disebutkan tadi. Sendi juga dikenal dengan nama ‘sinovial arthritis’ (pelumas) karena mengandung cairan yang membantu pergerakan tulang tanpa membentur satu sama lain.

Sebagai contohnya adalah sendi paha (sendi peluru) berbentuk bola yang terdapat pada ujung tulang yang bulat yang memenuhi cekungan pada pinggang sehingga tulang paha mampu bergerak dengan sangat mudah ke arah manapun. Dan juga sendi yang terdapat pada tulang kering (sendi engsel) mampu memudahkan pergerakan keduanya secara fleksibel. Begitu juga sendi yang terdapat pada lutut yang bekerja sebagai rel sehingga memudahkan pergerakan kedua betis.

Adapun ‘sliding arthritis’ adalah sendi-sendi permukaan yang saling bersentuhan dan mampu membuat tulang-tulang yang saling bertemu ketika bergerak ke arah samping dan arah depan  ke belakang. Sendi pada 2 tulang punggung atas (tulang punggung terdiri dari banyak ruas-ruas tulang yang saling bersambungan) mempunyai struktur khusus yang memungkinkan manusia memutar kepalanya dari samping ke arah lain dengan sangat mudah, karena sirkulasi pada ujung pada salah satu 2 ruas tulang punggung yang berbentuk bulat yang bersambungan di dalam cekungan pada ruas yang lain. Kerangka tulang pada manusia yang terdiri dari kombinasi berbagai tulang, disamping berguna untuk menopang tubuh, membentuknya, dan menjaga organ-organ lunak yang sangat sensitif, dia juga memberikan sandaran yang keras untuk otot sehingga mampu tegak. Jikalau tanpa sendi-sendi yang diberikan oleh Allah SWT untuk bergerak secara fleksibel, maka manusia tidak akan bisa bergerak bebas. Dan jikalau hanya ada satu saja sendi yang tidak berfungsi pada tubuhkita, maka kita akan merasakan sakit, nyeri, dan berbagai kesulitan yang sangat banyak ketika bergerak.

Dalam hal ini, setiap ruas tulang menuntut untuk bersedekah, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakannya dan tugas ini mesti ditunaikan manusia pada setiap harinya. Artinya, paling tidak, setiap hari manusia harus bersedekah sebanyak 360 kali atas nama 360 ruas ini. Hal ini tentunya sangat berat dan sulit. Namun, Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah, melalui Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tugas bersedekah sebanyak 360 kali itu cukup tergantikan olehdua raka’at shalat Dhuha.

”Setiap salah seorang di antara kamu memasuki pagi harinya, pada setiap ruas tulangnya ada peluang sedekah, setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap hamdalah (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, semua itu cukup tergantikan dengan dua raka’at dhuha.” (HR Muslim, hadits no. 720)

360, Derajat Tertinggi

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

“(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). (QS. Al Mu’min: 14)”

Sejak jaman kuno sampai saat ini angka 360 diketahui sebagai derajat paling tinggi dalam perhitungan, dimana satu lingkaran penuh dibagi kedalam 360 bagian. Al Qur’an secara spesifik tidak menyebutkan angka 360, akan tetapi dengan menyebutkan “derajat tertinggi” seperti pada ayat di atas, maka sekali lagi, konsistensi ayat Al Qur’an diuji.

Dari ayat di atas, Alloh menyatakan diriNya sebagai pemilik derajat tertinggi dengan menggunakan istilah “rofii’u darrojat” dan bukan “aliyyu darrojat”.

Sekarang mari kita hitung nilai gramatikal “rofii’u” seperti yang digunakan pada ayat di atas. “rofii’u” terdiri dari atas 4 huruf yaitu Ro, Fa, Ya, dan ‘Ain. Nilai masing-masing dari huruf tersebut berdasarkan nilai gramatikal Arab adalah sebagai berikut:

Ro=200

Fa=80

Ya=10

‘Ain=70

Sehingga jumlahnya menjadi 360. Maha benar Alloh dengan segala firmanNya. Manusia dibuat dari 360 sendi untuk menunjukan bahwa manusia seperti yang dinyatakan juga dalam beberapa ayat dalam Al Qur’an sebagai mahluk yang paling mulia, mahluk Alloh yang memiliki kemampuan untuk mencapai derajat tertinggi disisi Alloh subhanahu wata’ala. Lantas mengapa kita sebagai manusia justru seringkali membuat diri kita sendiri menjadi rendah dan hina dihadapan Alloh subhanahu wata’ala dengan ingkar kepadaNya, tidak patuh kepadaNya, dan selalu lalai untuk mengingat dan bersyukur kepada Alloh subhanahu wata’ala?

Semoga kita semua selalu dalam ridho dan lindungan Alloh subhanahu wata’ala. Bikarrommati ahlisilsilatil Thoriqoh Qodiriyah Naqshabandiyah ma’had Suryalaya Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqshabandi al Kamil Mukamil al Muwaffaq al Muttaqqi al Mujaddid al Quthub Qodashallahusirrohu…al Fatihah.

Categories
Tashowuf dan Thoriqoh

TANGGAPAN TERHADAP USTAD KHALID BASAMALAH TENTANG KAROMAT SYEIKH ABDUL QODIR JAELANI

Beberapa waktu lalu penulis menyaksikan sebuah video yang berdurasi sekitar 1 setengah menit yang menampilkan Ustad Khalid Basamalah sedang menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan kepada beliau tentang siapa itu Syeikh Abdul Qodir Jaelani QS. Dalam video tersebut Ust.