Categories
Informasi Islam Kajian Islam Syari'at dan Fiqih

Lawan Radikalisme, An Najmus Tsaqib dan Ormas Islam se-Bandung Raya Gelar FGD Dekonstruksi Radikalisme Islam

Bandung, 24 Agustus 2019

Semakin maraknya isu radikalisme, khususnya radikalisme Islam, An Najmus Tsaqib menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Dekonstruksi Radikalisme Islam dan Reformulasi Penegakan Syari’at Islam Dalam Konteks NKRI”. Kegiatan diselenggarakan pada hari Sabtu pagi, 24 Agustus 2019, di Hegarmanah Room Hotel Ardan Kota Bandung. Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu perwakilan beberapa ormas Islam yaitu: Ust. Yayat Ruhiyat (Pembina MMI/Ponpes Al Muqorrobun), Dadang Majid (FPI Kab. Bandung), Mashun Sofyan (BKLDK Nasional), Ahmad Ziaul Haq (LPPNU), Ust. Jujun (Madhussalam), Wawan (Forum Peduli Ummat Kota Bandung), dan Asep Muhargono (NII Crisis Center).

Menurut Ketua An Najmus Tsaqib, Bagus Setiawan, kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai upaya untuk melawan stigma radikalisme yang selama ini selalu disematkan kepada kelompok-kelompok gerakan Islam. “Isu dan stigma radikalisme Islam merupakan istilah yang diciptakan dari luar untuk memecah belah ummat Islam dan menciptakan gambaran negatif tentang Islam” ucap Bagus Setiawan.

Lebih lanjut disampaikan, “Hal ini tidak terlepas dari pemahaman yang salah dari beberapa rekan-rekan gerakan Islam tentang bagaimana menegakan syari’at Islam. Seringkali penegakan syari’at Islam selalu dikaitkan dengan perlunya merubah sistem pemerintahan, bentuk negara, bahkan menggulingkan kekuasaan. Pemahaman yang demikian menjadi ‘pintu masuk’ bagi pihak luar dengan kepentingan politik dan kekuasaan untuk melabeli gerakan Islam dengan label radikal”.

Di lain pihak, Ust. Yayat selaku salah satu Dewan Pembina MMI Jabar menyatakan bahwa masyarakat saat ini perlu mengalami pembaruan terkait pemikiran tentang Islam.

Sekarang ini, ia menilai perlu mengembalikan sunnatullah berdasarkan Alquran dan hadits, karena masyarakat Islam seolah kehilangan arah dan pegangan kuat, sehingga cenderung terombang-ambil terhadap hal yang tidak jelas.

“Reformulasi atau mengupgrade syariat Islam kembali diperlukan bagi masyarakat dengan formulasi yang lebih baik dari yang sudah ada saat ini. Sehingga jangan lagi Islam dituduh sebagai agama yang tidak tunduk terhadap negara atau pemerintah. Sebab pada hakikatnya dan tercatat dalam sejarah, bahwa para santri dan tokoh-tokoh Islam di negeri ini telah turut menjadi pelopor lahirnya negara Indonesia,” ujarnya usai kegiatan diskusi.

Selain itu, pihaknya pun meminta agar pemerintah atau pihak manapun untuk berhenti mengkriminalisasi para habib, karena habib pun berperan dalam memfasilitasi berdiri tegaknya NKRI.

“Kami meminta agar jangan lagi mengdiskreditkan Islam dan para habib, karena kami telah turut berjuang dan terus berusaha untuk mewujudkan kedaulatan NKRI di negeri ini,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Muqorrobun tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Mashun Sofyan mewakili BKLDK Nasional menyampaikan bahwa untuk melawan stigma radikalisme Islam yang penting untuk dibangun adalah kesatuan ummat atau ukhuwah Islamiyah. Selain itu penting juga melakukan proses transformasi ilmu yang baik dan benar, baik kepada para pemuda Islam maupun jamaah, agar tidak salah dalam memahami agama Islam itu sendiri. “Hal penting lainnya adalah menciptakaan kesejahteraan ekonomi ummat, dimana masalah ekonomi merupakan fondasi penting bagi ummat dalam menangkal berbagai serangan dari pihak luar”, ucap Mashun Sofyan sebagai closing statement diskusi.

(ed.)

 

 

Categories
Agenda Kegiatan

Pelatihan Bahasa Arab: “Memahami Bahasa Arab Dalam 9 Jam 38 Menit”

 

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Selamat datang di halaman pendaftaran online peserta kegiatan pelatihan:

“Memahami Bahasa Arab Dalam 9 Jam 38 Menit”

 

Mempelajari bahasa arab merupakan salah satu bagian penting dalam mempelajari ilmu dan agama Islam, mengingat bahwa sumber utama ilmu dan hukum dalam Islam yaitu Al Qur’an dan Al Hadist disampaikan dan dibukukan dalam bahasa Arab sebagai bahasa induknya. Selama ini banyak umat muslim yang menganggap bahwa mempelajari bahasa Arab adalah sesuatu yang sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Berangkat dari anggapan tersebut, Juhuda 38 bersama dengan An Najmus Tsaqib menginisiasi program ini. Melalui program pelatihan ini, ikhwan wal akhwat sekalian akan diberikan materi pembelajaran bahasa Arab dengan metode khusus yang disebut dengan “Arabic Easy Learning”.

Dengan metode tersebut, para peserta diproyeksikan dapat memahami dan menguasai teknik dasar membaca, melafalkan, dan berbicara bahasa Arab hanya dengan waktu 9 jam 38 menit. Melalui program ini, diharapkan dapat mempermudah para peserta dalam memahami dan menguasai bahasa Arab serta dapat mempersingkat waktu para peserta dalam mempelajari bahasa Arab.

Ketentuan umum penyelenggaraan program pelatihan gelombang 1 adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan akan diselenggarakan selama 3 hari dari tanggal 27-29 September 2019 (jadwal rinci kegiatan akan disampaikan kepada peserta melalui email). (tentatif)
  • Kegiatan setiap harinya dimulai dari pukul 08.30-17.00 WIB (tentatif)
  • Kegiatan akan diselenggarakan di Masjid Al Islam Baltos Jl. Kebon Bibit No.12, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat. (tentatif)
  • Jumlah peserta kegiatan sebanyak 100 orang.
  • Materi utama pelatihan adalah sebagai berikut:
      1. Dasar Ilmu Nahwu; pemateri:KH. Ridwan Abdul Muhajir (Durasi: 1 jam 38 menit)
      2. Bahasa Arab (Arabic Easy Learning); pemateri: KH. Ahmad Rusdi Wahab (Durasi: 8 jam)
  • Biaya pelatihan untuk setiap peserta sebesar:  Rp. 380.000,-
  • Pembayaran biaya pelatihan dilakukan dengan transfer ke Rekening BRI: 0286-010-48600-505 an. Bagus Setiawan

Sedangkan syarat bagi peserta adalah sebagai berikut:

  1. Mengisi formulir pendaftaran online (tersedia dibawah).
  2. Membayar biaya pelatihan dan melakukan konfirmasi pembayaran via WA (0819-1498-9270) paling lambat 3×24 jam setelah pengisian formulir online.
  3. Membawa KTP asli pada saat pelatihan sebagai alat untuk verifikasi peserta.
  4. Bersedia mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai.

Setiap peserta akan mendapatkan fasilitas sebagai berikut:

  1. ID Card Peserta
  2. Seperangkat alat tulis
  3. Modul/Buku materi pelatihan
  4. Coffee break dan makan siang
  5. Sertifikat pelatihan
  6. Akses prioritas untuk program pelatihan lainnya

Untuk mendaftar sekarang juga, silahkan isi formulir pendaftaran online berikut ini:

 

Categories
Informasi Islam

SERUAN KEPADA UMAT MUSLIM UNTUK BERSABAR DAN TIDAK MENDAHULUI KETETAPAN ALLOH SWT DALAM PILPRES 2019

Paska proses pemungutan suara sebagai bagian dari proses penyelenggaraan Pemilu 2019 yang meliputi Pileg dan Pilpres 2019 beberapa hari yang lalu, tensi perpolitikan nasional tidak kunjung turun. Dalam situasi tersebut, umat Islam yang telah terseret masuk dalam konflik kepentingan dan politik semakin hari semakin dieksploitasi oleh kelompok tertentu untuk dijadikan tameng sekaligus mesin politik dalam rangka meraih kekuasaan.

Dalam konteks pendidikan dan partisipasi politik, tentu saja hal tersebut membawa nilai positif, khususnya bagi umat muslim di Indonesia, karena dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran dan partisipasi politik umat muslim terus meningkat. Akan tetapi di sisi lain, kondisi politik yang terus memanas berpotensi menempatkan umat muslim Indonesia sebagai korban dari pertarungan politik nasional.

Indikasi tersebut telah begitu jelas terlihat dalam beberapa tahun terakhir, dimana fragmentasi di dalam umat muslim Indonesia terus meningkat dan menguatkan dengan dilandasi oleh pilihan dan kepentingan politik kelompok tertentu. Fragmentasi ini tentunya sangat mengancam ukhuwah Islamiyah di kalangan umat muslim.

Di lain pihak, munculnya dorongan untuk memaksakan kepentingan politik melalui jalur-jalur inkonstitusional, menjadi ancaman bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Dalam beberapa hari terakhir, kita dapat melihat bahwa ada upaya dari kelompok tertentu untuk mengklaim kemenangan dalam Pilpres 2019 secara sepihak. Sementara di sisi lain, proses penghitungan suara masih berlangsung dan belum ada keputusan resmi dan sah secara hukum dari KPU mengenai pihak mana yang menjadi pemenang dalam kontestasi Pilpres 2019. Hal ini tidak hanya melanggar etika hukum yang ada, tetapi telah melanggar larangan Alloh SWT, yaitu:

 

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Hujurat: 1)”

 

Tidak sebatas mengklaim kemenangan secara sepihak, kelompok tersebut berusaha menciptakan narasi-narasi yang menggiring opini publik bahwa telah terjadi kecurangan dalam Pilpres 2019 yang dilakukan oleh pihak penguasa maupun pemerintah yang direpresentasikan oleh KPU. Lebih berbahaya dari itu, narasi tersebut telah dibuat sedemikian rupa sehingga muncul opini bahwa kelompok penguasa beserta seluruh afiliasinya adalah musuh umat Islam.

Narasi dan penggiringan opini ini tidak hanya mengancam stabiitas keamanan nasional, tetapi juga telah mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, mengancam ukhuwah Islamiyah diantara umat muslim, serta berpotensi menjadikan umat muslim sebagai korban dari pertarungan kepentingan politik nasional.

Menyikapi kondisi tersebut, maka kami sebagai salah satu elemen gerakan Islam, menyerukan beberapa hal berikut kepada seluruh umat muslim di Indonesia:

  • Bersabar dalam menunggu dan menghadapi ketetapan Alloh SWT;
  • Tidak terjebak dan terprovokasi oleh narasi-narasi negatif serta penggiringan opini yang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu;
  • Memberikan dukungan kepada pemerintah, dalam hal ini KPU, untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dan menetapkan keputusan dengan sebenar-benarnya, tanpa intimidasi dan kecurangan;
  • Mengedepankan sikap menahan diri dan menghindari perdebatan yang lebih banyak mendatangkan mudhorot dibandingkan manfaat;
  • Menjauhkan diri dari prasangka atau sangka buruk (suudzon) terhadap apapun, mengedepankan tabayyun, sehingga tidak menjadi korban fitnah dan hoax yang semakin gencar saat ini;
  • Menghentikan sikap saling mencela dan memaki diantara sesama umat muslim, terlebih sikap saling mengkafirkan diantara sesama umat muslim.

 

Semoga kita semua dapat terus menjaga dan mempererat ukhuwah dan silaturahmi diantara kita sesama umat muslim, dan semoga siapapun pemimpin yang terpilih nantinya, dapat menjadi pemimpin yang amanah dan membawa keberkahan bagi Agama dan Negara.

Robbana afrigh ‘alaina shobron wa tsabit aqdhomanaa wanshurnaa ‘alal qoumil kafiriin…wa’tashimu bihabbillah.

Categories
Kajian Islam Tashowuf dan Thoriqoh

MUHASABAH DIRI AKHIR TAHUN 2018: MELURUSKAN NIAT, MENYEHATKAN AKAL

Oleh: Bagus Setiawan (Ketua An Najmus Tsaqib)

Mengingat sejauh mana waktu telah berjalan adalah hal penting yang harus diperhatikan umat Islam. Setiap detik waktu yang telah kita lewati serta apa saja yang telah kita perbuat dalam mengisi waktu tersebut, merupakan hisab bagi diri kita, dan pada saat bersamaan, menjadi bekal dan pelajaran bagi mereka yang berpikir untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri memasuki waktu yang akan datang, memasuki kehidupan baru setelah kematian.

Terkait pentingnya waktu Alloh SWT bahkan telah bersumpah atas nama waktu dalam firmanNya:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

 Artinya: “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)

Dalam surat tersebut, Alloh SWT menjadikan waktu yang telah kita lewati sebagai saksi atas apa-apa yang telah kita kerjakan serta menetapkan manusia yang mendapati kerugian karena tidak mampu mempergunakan waktu yang mereka miliki dengan baik. Manusia dapat menghindari kerugian dalam menggunakan waktu tersebut jika masuk ke dalam golongan manusia yang memenuhi 3 unsur berikut:

  • Manusia yang beriman;
  • Manusia yang saling menasehati untuk kebenaran;
  • Manusia yang saling menasehati untuk kesabaran.

Manusia yang beriman ditetapkan dalam urutan yang pertama, yang menunjukan skala prioritas, yang bisa diartikan bahwa sebelum kita menasehati orang lain dalam kebenaran dan kesabaran, diri kita sendiri harus terlebih dahulu berada dalam iman, masuk ke dalam laa ilaha ilallah, kalimatul iman, secara kaffah. Aspek iman ini berkaitan erat dengan pembahasan muhasabah diri, karena sejatinya yang mengetahui kadar keimanan kita tidak lain hanyalah diri kita sendiri dan Alloh SWT.

Melakukan muhasabah terhadap diri, menjadi salah satu jalan untuk mendorong kita menjadi benar-benar seorang hamba Alloh SWT yang beriman. Dengan melakukan muhasabah diri, kita bisa mengukur apakah diri kita telah memenuhi ciri dan tanda apa yang disebut dengan orang yang beriman. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّۭا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al-Anfal ayat 2-4).

Lihatlah kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita memenuhi ciri orang-orang beriman seperti yang ditetapkan oleh Alloh SWT???

Dalam ayat di atas terdapat 3 ciri utama orang-orang yang benar-benar beriman, yang pertama dan utama adalah orang yang ketika disebutkan nama Alloh SWT, maka gemetarlah hati mereka. Orang beriman adalah mereka yang ketika mendengar kalimatul iman dilafadzkan secara dhohir, maka hatinya ikut berdzikir (ingat) kepada Alloh SWT. Dalam konteks ini, orang beriman adalah mereka yang selalu ingat kepada Alloh SWT, mereka yang selalu berdzikir kepada Alloh SWT dalam berbagai kondisi dan situasi, baik secara dhohir maupun batin. Di hati mereka telah tertanam kalimatul iman “laa ilaha ilallah” sehingga hati mereka akan terus dzikir (ingat) kepada Alloh SWT.

Dengan hati yang selalu dzikir (ingat) kepada Alloh SWT maka berbuahlah menjadi akhlak yang baik, mendorong kita untuk memunculkan ciri-ciri orang beriman berikutnya. Membuat kita menjadi orang yang selalu tawakal kepada Alloh SWT, menerima segala apa yang ditetapkan oleh Alloh SWT, mendorong kita untuk ringan menegakan sholat dan menyisihkan sebagian rizki kita, besar atau kecil.

Oleh karena ciri iman yang utama letaknya di dalam hati, maka melalui muhasabahlah kita dapat mengetahui apakah benar kita sudah masuk dalam golongan orang-orang yang beriman, atau mungkin iman kita baru sebatas simbol dan ucapan saja?

Mari kita lihat fenomena umat Islam hari ini sebagai bahan renungan kita bersama, khususnya di negeri kita sendiri, Indonesia. Hari ini kita melihat bagaimana ghiroh umat Islam di Indonesia untuk menegakan kalimatul iman, kalimah tauhid, laa ilaha ilallah, telah berkembang dan meningkat secara pesat, terakhir dapat kita saksikan pada peristiwa Reuni 212 beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, tentu saja ini merupakan hal yang sangat menggembirakan kita semua selaku umat Islam. Kalimatul iman secara perlahan telah menjadi simbol terbentuknya ukhuwah diantara umat Islam di Indonesia.

Meskipun demikian, setelah itu semua, perlulah kita melakukan muhasabah diri, mengukur diri kita sendiri, benarkah kita telah masuk dalam golongan orang yang beriman? Mari kita menilik ke dalam hati kita sendiri, apa kalimah tauhid tersebut sudah ada dalam hati kita. Seberapa banyak hati kita dzikir (ingat) kepada Alloh SWT? Atau jangan-jangan ketika kita merasa telah menjadi orang yang beriman dengan membela simbol-simbol tauhid, ternyata hati kita lupa kepada Alloh SWT, dengan menyatakan bahwa inilah saya orang yang benar, orang yang beriman, yang tidak sejalan dengan saya adalah orang yang salah, orang yang sesat, atau ketika kita membela simbol-simbol tauhid ternyata niat kita bukan lillahita’ala, akan tetapi niat-niat lain, yang kita ingat justru hal yang bersifat duniawi. Fokus kita kemudian tidak lagi kepada Alloh SWT, tetapi kepada hal remeh temeh duniawi seperti Pilpres, gerakan menegakan khilafah, perdebatan besar kecilnya jumlah massa, dan lain-lain, lalu merasa itu semua adalah karena hasil upaya kita, naudzubillah…kita semua lupa bahwa tidak sehelai pun daun yang jatuh ke bumi tanpa seijin Alloh SWT, bahwa hakikatnya kita tidak memiliki daya dan upaya.

Semua hal di atas hanya mungkin kita dapati jawabannya dengan melakukan muhasabah diri. Jangan sampai apa yang telah kita kerjakan, dikarenakan hati yang lupa kepada Alloh SWT, niat yang tidak lurus, niat yang tidak ikhlas semata-mata karena Alloh SWT, justru menjerumuskan kita masuk kepada sikap sombong bahkan munafik. Jika kita temukan bahwa diri kita menyimpang, diri kita ternyata belum sepenuhnya menjadi orang yang beriman, maka sudah sepatutnya lah kita perbaiki, akan tetapi jika kita temukan diri kita telah berada pada jalur yang benar, hati yang dzikir (ingat) kepada Alloh SWT, niat yang lurus, maka sepatutnya kita perkuat iman tersebut dengan meningkatkan amal ibadah kita.

Tolak ukur niat yang lurus atau tidak selain melihat ke dalam diri kita sendiri, juga dapat kita lihat dari sikap kita yang dihasilkan dari niat tersebut. Sebagai contoh, kembali kepada masalah bangkitnya ghirah umat Islam Indonesia, apakah dengan semakin kuatnya pembelaan kita terhadap kalimah tauhid membuat kita menjadi bersikap lebih beradab dan mengedepankan akhlak? Mari kita lihat, masih banyak dari kita yang semangat membela kalimah tauhid, pada saat bersamaan masih sering terlibat perdebatan di ruang-ruang publik yang lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya, yang kemudian meninggalkan akhlak dan adab. Kemudian, kita juga bisa menyaksikan secara jelas, hampir setiap hari, setiap jam, di lini media sosial, kita yang mengaku membela kalimah tauhid masih terjebak dalam sikap saling menjelekan satu sama lain, bukan karena Alloh SWT, tapi karena perbedaan pilihan politik, karena kebodohan dan matinya akal sehat kita. Kita yang merasa membela kalimah tauhid, begitu mudahnya menyebarkan sentimen-sentimen kebencian, lagi-lagi karena niat yang tidak lurus dan matinya akal sehat.

Masih maraknya fenomena ini, menuntut kita untuk melakukan muhasabah diri, menilai diri kita sendiri dan berhenti sejenak menilai orang lain. Jangan sampai dengan perasaan sombong kita karena merasa benar, kita kemudian terus menilai orang lain dan menyatakan orang lain salah serta buruk dan lupa menilai diri sendiri. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam menyatakan:

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu.” (HR. Tirmidzi).

Semua yang kita perbuat, baik perbuatan hati maupun perbuatan jasad kita, semua akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Oleh karena itu, seringlah melakukan muhasabah diri, tidak hanya dalam momentum pergantian tahun ini, akan tetapi sesering mungkin, agar kita mampu terus mengukur kadar keimanan kita masing-masing, agar kita terhindar dari niat yang tidak lurus yang menyebabkan akal kita menjadi tidak sehat, menyebabkan kita terjerumus dalam golongan orang-orang yang munafik.

Sebagai penutup, mari kita sama-sama renungi dan kembali menilai diri kita sendiri, menghitung diri kita sendiri, sebelum kita dihisab di akhirat kelak. Mari kita jaga hati kita untuk selalu dzikir (ingat) kepada Alloh SWT, sehingga segala apa yang kita niatkan itu semata-mata karena Alloh SWT, bukan karena hal-hal duniawi yang dibungkus dengan simbol-simbol agama, sehingga akal kita tetap sehat sehingga mampu menempatkan adab dan akhlak dalam setiap hubungan kita dengan sesama manusia.

Semoga selalu diberkahi segalanya, semuanya, selamanya…bikarrommati Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS., Al Fatihah…

wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Categories
Informasi Islam

An Najmus Tsaqib Gelar Diskusi Lintas Ormas Islam Terkait Kasus Pembakaran Bendera Berlafadz Tauhid

Bandung – Dalam rangka menjaga ukhuwah Islamiyah diantara ormas-ormas Islam serta sebagai salah satu ruang diskusi dan tabayyun menyikapi kasus pembakaran bendera berlafadz tauhid di Garut beberapa waktu lalu, An Najmus Tsaqib gelar diskusi dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) hari ini (30/10/2018).

Diskusi yang diselenggarakan di Hegarmanah meeting room Hotel Ardan Jl. Sederhana No. 8-10 Kota Bandung tersebut dihadiri oleh perwakilan dari beberapa ormas dan kelompok gerakan Islam di seputar wilayah Bandung Raya yaitu Mashun Sofyan (Visi Generasi), Ardhiana (Gema Pembebasan), KH. Musrofa (Perwakilan MUI), Ust. Hari Nugraha (KPUB/FUI), Ust. Abu Ghifari (Tazkia Forum), H. Asep Kurnia (Persis), Agung Setiawan (Pemuda Istiqomah), dan Ust. Jujun (Madhussalam).

Dalam keterangan resminya, Ketua An Najmus Tsaqib sekaligus yang bertindak sebagai moderator dalam diskusi, Bagus Setiawan, menyatakan bahwa tujuan utama dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk mendorong proses penegakan hukum yang adil terhadap kasus pembakaran bendera berlafadz tauhid serta menolak segala bentuk politisasi terhadap kasus ini.

“Kalimah tauhid merupakan milik seluruh umat Islam, oleh karena itu penggunaannya dalam simbol organisasi Islam adalah hal yang wajar. Penggunaan kalimah tauhid tidak bisa serta merta diidentikan dengan HTI, banyak organisasi Islam yang menggunakan kalimah tauhid dalam simbol organisasinya, termasuk kami An Najmus Tsaqib. Dengan demikian, tindakan pembakaran bendera berlafadz tauhid bagi kami apapun alasannya tidak bisa dibenarkan”, ucap Bagus.

“Oleh karena itu kami mendorong pihak kepolisian agar bisa menjalankan tugasnya secara profesional dan adil dalam kasus ini. Disamping itu kami juga menghimbau kepada seluruh elemen dan kelompok umat Islam untuk bisa saling menahan diri, menghindari saling cela dan menghina, dan mewaspadai segala bentuk politisasi atau upaya untuk menunggangi dan mengeksploitasi kasus ini demi kepentingan politik”, tegas Bagus.

Dalam diskusi, Mashun Sofyan dari Visi Generasi menyatakan bahwa ada kecenderungan munculnya sikap phobia terhadap kalimah tauhid dan ada upaya yang sistematis dari kelompok tertentu untuk saling membenturkan umat Islam.

“Sebelum kasus pembakaran bendera tauhid, kami juga mengalami kasus yang menunjukan adanya phobia terhadap kalimah tauhid, yaitu penggerudukan markas kami oleh kelompok tertentu dikarenakan program yang kami jalankan, yaitu “Sebar 1 Juta Topi Tauhid” dianggap sebagai agenda tersembunyi dari HTI, yang bagi kami merupakan tuduhan yang sama sekali tidak berdasar”, ucap Mashun.

Berbeda dengan itu, Ust. Abu Ghifari dari Tazkia Forum lebih mengingatkan tentang bahaya yang lebih besar dari munculnya kasus ini.

“Hal yang lebih berbahaya adalah kepentingan politik para politisi terhadap kasus ini, dimana pernyataan para politisi terkait kasus ini justru berdampak negatif terhadap kerukunan umat Islam”, tegas Ust. Abu Ghifari.

Lain halnya dengan H. Asep Kurnia sebagai perwakilan Persis, beliau menyampaikan tentang janggalnya berbagai keterangan terkait kasus ini.

“Dalam kasus ini saya melihat ada keterangan yang tidak masuk akal dari pernyataan pihak kepolisian, mulai dari profil pembawa bendera, motif pembakaran, hingga perkembangan kasusnya hingga hari ini” ucap H. Asep.

“Ke depan saya menyarankan kepada pihak kepolisian, jika terjadi kasus semacam ini, ada baiknya tidak langsung ditindak, akan tetapi dilakukan musywarah diantar apara ormas Islam yang ada, sebagai ruang untuk tabayyun sekaligus menemukan langkah yang tepat dalam menangani kasus tersebut”, tambah H. Asep.

 

Diskusi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting, yaitu sebagai berikut:

  1. Bahwa seluruh peserta sepakat menyatakan tindakan pembakaran bendera tauhid merupakan penodaan terhadap agama Islam;
  2. Tindakan pembakaran bendera tauhid dan kasus-kasus lain yang bersinggungan dengan umat Islam merupakan grand design kelompok tertentu untuk memecah belah umat;
  3. Harus diperbanyak ruang-ruang diskusi dan komunikasi diantara ormas-ormas Islam untuk menetralisir perbedaan sehingga meminimalisir potensi perpecahan;
  4. Mendorong penegakan hukum kasus pembakaran bendera tauhid secara adil dan transparan dan meminta agar para pelaku pembakaran bendera diproses secara hukum. (BS)

Berita ini juga tayang di Jabar Expose dengan judul: Jaga Ukhuwah Islamiyah, An Najmus Tsaqib Gelar Diskusi Lintas Ormas Islam Terkait Kasus Pembakaran Bendera Berlafadz Tauhid

Categories
Informasi Islam

PERNYATAAN SIKAP TERHADAP KASUS PEMBAKARAN BENDERA BERLAFADZ TAUHID-KALIMAH SYAHADAT DI GARUT JAWA BARAT

Menyikapi terjadinya peristiwa pembakaran bendera berlafadz tauhid-syahadat yang terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat dalam kegiatan perayaan Hari Santri Nasional beberapa waktu yang lalu, maka kami selaku bagian dari umat muslim Indonesia sekaligus bagian dari gerakan Islam di Indonesia menyampaikan beberapa pernyataan sikap sebagai berikut:

  • Menyayangkan dan mengecam tindakan pembakaran yang dilakukan oleh beberapa oknum Banser. Apapun alasan tindakan tersebut, dalam pandangan kami, tidak sepatutnya bendera tersebut dibakar, karena jika bicara dalam sudut pandang hukum yang berlaku, jika tindakan pengibaran bendera berlafadz tauhid tersebut dianggap sebagai provokasi yang melanggar hukum ataupun kesepakatan, sudah seharusnya bendera yang diamankan tersebut tidak dibakar, melainkan disimpan dengan baik sebagai bukti;
  • Bahwa penggunaan lafadz tauhid-kalimah syahadat sebagai simbol organisasi maupun simbol sebuah pernyataan dan tindakan merupakan hak seluruh umat muslim, sehingga mengidentikan penggunaan lafadz tauhid-kalimah syahadat dengan HTI adalah hal yang tidak tepat;
  • Dalam simbol dan logo organisasi kami yang juga menggunakan lafadz tauhid-kalimah syahadat adalah dalam rangka menegaskan gerakan kami dalam menegakan kalimah tauhid dalam tiap diri umat muslim melalui implementasi dzikir. Dalam hal ini mengidentikan kelompok dan ormas Islam yang menggunakan simbol-simbol tauhid sebagai kelompok radikal dan makar secara serampangan adalah sesuatu yang sama sekali tidak berdasar;
  • Menyesalkan proses penegakan hukum yang tidak berjalan adil, dimana para pelaku pembakaran tidak mendapatkan sanksi hukum, di satu sisi, alasan tidak adanya niat jahat dari pelaku pembakaran yang menjadi alasan pihak kepolisian tidak dapat memproses hukum pelaku pembakaran, masih sangat debatable secara hukum. Oleh karena itu, kami menuntut penegakan hukum yang adil dengan memproses secara hukum para pelaku pembakaran hingga pengadilan.
  • Mengecam segala bentuk politisasi terhadap kasus ini, baik yang dilakukan oleh kelompok pro-pemerintah maupun kelompok oposisi yang justru membuat masalah ini semakin jauh dari substansi dan justru memperbesar resiko terjadinya konflik horizontal di kalangan umat muslim.
  • Menghimbau kepada seluruh umat muslim, baik yang pro maupun kontra untuk bisa saling menahan diri, menghindari tindakan saling menghina dan mencaci satu sama lain, menghindari berbagai upaya provokasi dan adu domba diantara sesama umat muslim, karena sejatinya musuh kita yang terbesar bukan terdapat pada diri orang lain, melainkan ada pada diri kita sendiri.

Demikianlah pernyataan sikap ini kami sampaikan, semoga kita semua dilindungi dari segala fitnah akhir zaman, semoga selalu diberkahi segalanya, semuanya, selamanya. Robbana afrigh ‘alaina shobron wa tsabit aqdhomanaa wanshurnaa ‘alal qoumil kafirin…

 

Bandung, 18 Safar 1440 H

 

 

Uwais al Ikhwani

An Najmus Tsaqib

Categories
Informasi Islam Kajian Islam

IJMA’ ULAMA SEBAGAI SUMBER HUKUM DALAM ISLAM DAN IJTIMA’ ULAMA SEBAGAI LEGALISASI SIKAP POLITIK

Islam sebagai sebuah manhaj alhayat memiliki struktur keyakinan yang komprehensif sehingga dapat memberikan solusi bagi setiap problema kehidupan manusia yang ada. Di antara sub struktur Islam yang menjadi tumpuan dalam menjawab problematika umat manusia adalah sIstem hukum Islam yang paripurna. Kesempurnaan hukum Islam tercermin dari pranata hukumnya yang lengkap. Diantaranya adalah sifat dari hukum Islam yang elastis dan dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat dan zaman yang berbeda (elektisisme).

Sumber hukum dalam Islam yang utama adalah Al Qur’an dan As Sunnah (hadist), segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia baik dalam tataran horizontal (hubungan dengan sesama mahluk Alloh SWT/habblu minannas) maupun dalam tataran vertikal (hubungan manusia dengan Alloh SWT/habblu minnallah) semuanya sudah diatur dan ditetapkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, baik secara tersirat maupun tersurat. Oleh karena itu, bagi umat muslim, jalan menuju keselamatan dari seluruh perkara dunia dan akhirat adalah jalan yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Rasululloh SAW:

“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits) Nabi-Nya.” (HR.Malik)

Berdasarkan hadist tersebut, maka bagi umat muslim, segala sesuatu yang dihadapi dan menjadi masalah haruslah dikembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah, terlebih jika perkara tersebut menimbulkan perdebatan yang cenderung membawa kepada mudharat dibanding manfaat.

Meskipun telah jelas bahwa sumber hukum dalam Islam itu adalah Al Qur’an dan As Sunnah, dalam perkembangannya muncul sumber hukum lain dalam Islam, yaitu ijtihad. Jika di dalam hukum Indonesia, ijtihad hampir serupa dengan metode penemuan hukum melalui pertimbangan dan keputusan hakim dalam pengadilan dalam memeriksa dan mengadili sebuah perkara yang belum memiliki dasar hukum atau aturan hukum yang kuat. Singkatnya, ijtihad muncul sebagai sebuah metodologi dalam hukum Islam dalam rangka memutuskan perkara yang tidak memiliki dalil tertulis di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Ketiadaan dalil tertulis tersebut tidak menunjukan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidak cukup lengkap mengatur segala perkara manusia hingga hari akhir, akan tetapi di dalam Al Qur’an dan As Sunnah telah tersirat dasar hukum tentang suatu perkara. Dikarenakan sifatnya tersirat maka menimbulkan perbedaan interpretasi atau pemahaman yang seringkali kemudian menimbulkan perselisihan. Ijtihad dalam hal ini menjadi solusi atas perbedaan tersebut.

Terdapat beberapa bentuk ijtihad yang dikenal dalam hukum Islam, salah satunya adalah ijtima. Istilah ijtima akhir-akhir ini sering kita dengar seiring dengan semakin maraknya pertarungan politik di Indonesia. Setidaknya, dalam beberapa waktu terakhir kita mendengar telah dilakukan kegiatan ijtima ulama yang dilakukan oleh sekelompok ulama dengan motivasi politik yaitu menentukan sikap politik mereka menjelang Pileg dan Pilpres 2019. Menurut pandangan sekelompok ulama yang tergabung di dalam GNPF Ulama yang dikomandani oleh Habibana Rizieq Syihab, bahwa dasar digelarnya ijtima ulama adalah menyikapi perbedaan umat Islam dalam hal pilihan politik, sehingga perlu untuk membuat sebuah ijma melalui proses ijtima ulama yang bisa dijadikan panduan bagi umat muslim dalam menentukan pilihan politiknya.

Ijtima’ secara sederhana dapat dipahami sebagai pertemuan para ulama atau mujtahid (mereka yang melakukan ijtihad) untuk membahas masalah yang bersifat ijtihadiyah. Hasil keputusan dari ijtima’ disebut dengan ijma’ yang secara etimologi berarti kesepakatan atau konsesnsus. Ijma’ juga berarti (العزم على شيء) ketetapan hati untuk melakukan sesuatu. Perbedaan antara pengertian pertama dengan yang kedua terletak pada kuantitas (jumlah) orang yang berketetapan hati. Pengertian pertama mencukupkan satu tekad saja sedangkan untuk pengertian kedua memerlukan tekad kelompok.

Secara terminologi, ada beberapa rumusan ijma’ yang dikemukakan oleh para ulama’ ushul fiqh. Jumhur ulama’ ushul fiqh sebagaimana dikutip oleh Wahbah Zuhaili, Abu Zahrah dan Wahhab Khalaf merumuskan ijma’  dengan kesepakatan para mujtahid dari umat Muhammad pada suatu masa setelah wafatnya beliau terhadap suatu hukum syara’, dan Abu Zahra menambahkan diakhir definisinya dengan “yang bersifat amaliyah”.

Berdasarkan definisi tersebut, maka menurut para jumhur ulama’ syarat-syarat atau rukun terjadinya ijma’ adalah sebagai berikut:

  1. Semua mujtahid, artinya bahwa ijma itu harus disepakati oleh semua mujtahid. Tidak ada yang menolak di antaranya pada masa tersebut.
  2. Sesudah Nabi wafat, artinya bahwa pada masa Nabi masih hidup tidak ada ijma. Karena segala permasalahan hukum dapat dijawab langsung oleh Nabi.
  3. Hukum syara‘, artinya kesepakatan itu hanya terbatas pada masalah hukum amaliah dan tidak masuk masalah akidah.

Dalam prakteknya, seperti yang terjadi dalam dua kali ijtima’ ulama yang diselenggarakan oleh GNPF Ulama, poin yang menjadi perhatian adalah apakah hasil keputusan atau kesepakatan para ulama tersebut menjadi sebuah ijma’ yang memiliki kekuatan hukum sehingga harus ditaati oleh umat muslim atau sebatas anjuran yang tidak memiliki implikasi apapun secara hukum syara’?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab jika kita kembalikan kepada rukun terbentuknya ijma’ di atas, khususnya pada poin pertama. Sebuah ijtima’ yang diproyeksikan untuk menghasikan sebuah ijma’ haruslah melibatkan dan diikuti oleh seluruh mujtahid yang ada pada masa itu, dalam konteks Indonesia, maka harus melibatkan seluruh mujtahid yang ada di Indonesia. Keterlibatan seluruh mujtahid dalam perkembangan praktek ijtima’ dalam membuat sebuah ijma’ pada kenyataannya memang sulit terwujud, hal ini dikarenakan banyaknya jumlah mujtahid yang ada serta kendala geografis yang tidak memungkinkan kehadiran seluruh mujtahid yang ada. Oleh karena itu, meskipun tidak semua mujtahid mengikuti proses ijtima’, apa yang menjadi keputusan ijtima’ akan menjadi sebuah ijma’ jika seluruh mujtahid yang tidak mengikuti proses ijtima’ kemudian ikut menyepakati hasil keputusan ijtima’ tersebut, tentunya setelah mengkaji dan mempelajari hasil ijtima’ tersebut.

Terkait dengan hal tersebut, maka terdapat dua jenis ijma’ yaitu sebagai berikut:

  1. Ijma‘ Sharih (jelas), yaitu ijma‘ yang menampilkan pendapat masing-masing ulama secara jelas dan terbuka baik melalui ucapan (fatwa) atau perbuatan (keputusan). Ternyata seluruh pendapat mereka menghasilkan pendapat yang sama atas hukum suatu perkara. Ijma‘ bentuk pertama ini terhitung sangat langka karena sangat sulit untuk mencapainya. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa ijma‘ semacam ini hanya dapat terlaksana pada zaman sahabat karena jumlah mujtahid ketika itu masih sedikit dan jarak mereka berdekatan. Ijma‘ Sharih ini menempati peringkat ijma‘ yang paling tinggi. Hukum yang ditetapkannya bersifat qat‘i, sehingga umat wajib Maka para ulama sepakat dan menerima untuk menjadikan ijma‘ sharih ini sebagai hujjah syar‘iyyah dalam penetapan hukum syara‘.
  2. Ijma‘ Sukuti, yaitu sebagian mujtahid menampilkan pendapatnya secara jelas mengenai hukum suatu peristiwa melalui perkataan atau perbuatan. Adapun mujtahid yang lain tidak memberikan tanggapan apakah ia menerima atau menolak. Imam Syafi‘i tidak menerima ijma‘ ini sebagai sumber hukum, begitu juga Imam Malik, sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad menjadikan ijma‘ ini sebagai sumber hukum, karena diamnya merujuk pada kata setuju.

Mengacu kepada kedua jenis ijma’ yang utama tersebut, maka keputusan ijtima’ ulama yang diselenggarakan oleh GNPF Ulama baik ijtima’ pertama maupun kedua tidak bisa dikatakan sebagai sebuah ijma’ yang memiliki konsekuensi hukum. Keputusan ijtima’ ulama GNPF Ulama bagaimanapun tidak dapat kita kategorikan sebagai ijma’ sharih karena tidak semua mujtahid yang ada ikut dalam proses tersebut. Disamping itu, para ulama dan mujtahid yang tidak terlibat dalam proses tersebut sebagian ada yang kemudian mengikuti, ada yang diam, dan ada pula yang membuat keputusan yang berbeda. Dengan demikian keputusan ijtima’ ulama GNPF Ulama juga tidak dapat dikayakan sebagai ijma’ sukuti dikarenakan ada sebagian besar ulama dan mujtahid yang justru mengambil sikap dan keputusan yang berbeda dengan hasil keputusan ijtima’ ulama GNPF Ulama.

Salah satu poin penting keputusan ijtima’ ulama GNPF Ulama adalah memberikan dukungan politik kepada Capres Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Di sisi lain, mayoritas ulama NU dan MUI justru mengambil sikap yang berbeda yaitu mendukung Capres Jokowi-KH. Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019. Dengan adanya perbedaan sikap tersebut, maka keputusan ijtima’ ulama GNPF Ulama sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai sebuah ijma’. Oleh karena itu tidak ada kewajiban bagi umat muslim di Indonesia untuk mengikutinya. Sikap dan keputusan politik yang diambil melalui ijtima’ ulama harus dipandang sebagai sebuah salah satu pertimbangan, sama halnya dengan sikap politik mayoritas ulama NU dan MUI, keduanya harus dipandang sebagai sebuah pertimbangan bagi umat muslim untuk menentukan sikapnya.

Umat muslim harus menghindari klaim kebenaran bahwa hanya salah satu sikap dan keputusan kelompok ulama lah yang benar, sedangkan yang lainnya salah, apalagi dalam konteks politik yang syarat dengan unsur kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan umat. Umat dengan jelas dapat melihat bagaimana GNPF Ulama sendiri terbawa dalam alur kepentingan politik, ketika keputusan ijtima’ ulama pertama sama sekali tidak dilaksanakan oleh Prabowo sebagai pihak yang memegang keputusan untuk menjalankan amanah ijtima’ ulama tersebut, sehingga perlu bagi mereka untuk membuat ijtima’ ulama kedua untuk memberikan legitimasi terhadap Prabowo yang menganulir keputusan ijtima’ ulama pertama.

Dalam kejadian tersebut kita dapat melihat dengan sangat terang bagaimana sebuah metode dalam menetapkan sumber hukum Islam digunakan untuk melegitimasi kepentingan politik, bukan kepentingan umat, sekali lagi bukan kepentingan umat!!!

Perbedaan pendapat dan sikap politik diantara para ulama kita, dengan demikian haruslah dilihat dengan sikap yang bijak, jangan ada perebutan terhadap klaim kebenaran yang justru membawa umat kepada perpecahan dan saling menghina sesama umat muslim. Alloh SWT sudah memberikan perintah yang tegas kepada kita umat muslim dalam menghadapi perbedaan:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59)

Maka kembalikanlah sikap kita kepada Al Qur’an dan As Sunnah, kurangilah sikap-sikap yang bertentangan dengan akhlak Islam. Menjaga akhlak kita serta menjaga ukhuwah islamiyah adalah lebih penting dari sekedar kemenangan dalam kontestasi politik 5 tahunan ini. Kemenangan dalam kontestasi politik tidak akan berarti sama sekali jika konsekuensinya adalah konflik diantara sesama umat muslim dan pecahnya persaudaraan muslim diantara kita semua. Semoga kita semua selalu dalam ridho Alloh SWT, segalanya, semuanya, selamanya…

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. (Uwais al Ikhwani)

Categories
Kajian Islam

SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN MEMILIH PEMIMPIN

Seringkali kita sebagai muslim dalam menghadapi perkara yang bersifat khilafiyyah/furu’iyah, meski masing‐masing pihak punya pegangan Al Qur’an dan Hadits, masih kita jumpai sikap saling mencaci satu dengan yang lainnya. Dari membid’ahkan pihak yang lain, hingga mengkafirkan. Berbagai caci‐maki bahkan fitnah dan kebohongan pun dilontarkan. Sungguh jauh dari ajaran Islam.

Dalam konteks tahun politik saat ini, umat muslim di Indonesia dihadapkan pada persoalan perbedaan sikap atau pilihan politik dalam memilih pemimpin. Perbedaan tersebut muncul dari adanya perbedaan, pertimbangan dan penilaian masing‐masing dalam melihat sosok pemimpin. Perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin adalah hal yang wajar, apalagi dalam sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia saat ini. Dalam Islam pun perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin adalah sesuatu yang wajar, karena Islam pun mengenal mekanisme musyawarah dalam memilih pemimpin. Musyawarah artinya mengakomodir segala perbedaan pendapat untuk kemudian dicapai kesepakatan bersama atas suatu masalah yang dihadapi.

Perbedaan memilih pemimpin sebagai sesuatu yang wajar, saat ini justru dijadikan ‘senjata’ bagi satu kelompok untuk menyerang kelompok lain yang memiliki pilihan yang berbeda. Hal yang menyedihkan adalah ketika sesama muslim kemudian menyatakan muslim lainnya sebagai munafik atau diragukan keIslamannya jika berbeda pilihan politik. Dalam konteks ini sungguh Islam benar‐benar telah dijadikan komoditas politik dan dieksploitasi secara tidak terkendali demi kepentingan politik.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita mencontoh akhlak Rasulullah S AW dalam menyikapi perbedaan pendapat, termasuk perbedaan dalam memilih pemimpin. Bagaimanakah cara Rasulullah SAW menghadapi perbedaan?
Kecuali menyangkut masalah prinsip akidah dan hal‐hal yang sudah qoth’i, Islam dikenal sangat menghargai perbedaan. Rasulullah SAW mencontohkan dengan sangat indah kepada kita semua. Dalam Shahih al‐Bukhari, Volume 6, hadits no. 514, diceritakan bahwa Umar ibn Khatab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Al‐Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah SAW untuk meminta konfirmasi. Rasulullah SAW membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al‐Qur’an memang diturunkan Allah SWT dengan beberapa variasi bacaan (7 bacaan).
“Faqra’uu maa tayassara minhu,” sabda Rasulullah SAW, “maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.”

Lihat bagaimana Nabi tidak menyalahkan 2 pihak yang berbeda.
Al‐Imam Al‐Bukhari dan Al‐Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin “Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah SAW
bersabda pada peristiwa Ahzab:
“Janganlah ada satupun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.”
Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.” Sekali lagi Nabi tidak mencela  salah satu pihak yang berlawanan pendapat itu dengan kata‐kata bid’ah, sesat, kafir, dan sebagainya. Beliau bahkan tidak mencela salah satunya. Masing‐masing pihak punya argumen. Yang shalat Ashar di tengah jalan bukan ingkar kepada Nabi. Namun mereka mencoba sholat di awal waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya. Yang shalat belakangan di perkampungan Bani Quraizah juga bukan melanggar perintah sholat di awal waktu. Namun mereka mengikuti perintah Nabi di atas.

Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, “˜aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu (Nabi Muhammad).’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah, Hassan melanjutkan perkataannya. “Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah‐mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al‐Qudus. Abu Hurairah lalu menjawab, “Ya Allah, benar (aku telah medengarnya). “ (HR. Abu Dawud [4360] an‐Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).
Lihat saat Hassan Bin Tsabit sang penyair tengah melantunkan syair yang memuji‐muji Allah dan RasulNya di Masjid sebelum waktu sholat, Nabi Muhammad tidak melarang atau mencelanya. Beliau bahkan diam mendengarkannya. Seringkali kita temui ada kelompok‐kelompok tertentu yang memvonis bid’ah orang‐orang yang berdzikir atau bersholawat sebelum waktu sholat dengan dalih Nabi Muhammad tidak pernah melakukannya. Memangnya apa yang diperbuat Hassan Bin Tsabit, yaitu bersyair di Masjid sebelum waktu sholat itu pernah dilakukan oleh Nabi? Meski Nabi tidak melakukannya, namun beliau tidak mencaci dengan kata‐kata buruk seperti bid’ah, sesat, dan sebagainya. Bersyair saja dibolehkan oleh Nabi, apalagi kalau berdzikir atau bersholawat!
Khilaf (perbedaan pendapat) di mana pun selalu ada. Di mana pun dan sampai kapan pun. Jika tidak disikapi dengan tepat dan bijaksana, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan perpecahan, permusuhan, dan bahkan kehancuran. Karena itu, Islam memberi arahan bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat di antara kita. Di bawah ini adalah adab-adab yang harusnya dilakukan kaum Muslim yang bisa kita implementasikan dalam menyikapi perbedaan dalam memilih pemimpin:
1. Ikhlas dan Lepaskan Diri dari Nafsu
Kewajiban setiap orang yang berkecimpung dalam ilmu dan dakwah adalah melepaskan diri dari nafsu tatkala mengupas masalah-masalah agama dan syari’ah. Mereka hendaknya tidak terdorong kecintaan mencari ketenaran serta menonjolkan dan memenangkan diri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, orang yang mencari ilmu karena hendak mendebat para ulama, melecehkan
orang‐orang yang bodoh, atau untuk mengalihkan perhatian manusia pada dirinya, maka dia tidak akan mencium bau surga (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah).
2. Kembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW
Ketika terjadi perbedaan pendapat, hendaklah dikembalikan pada Kitabullah dan Sunnah Rasul. Keduanya dijadikan sebagai ukuran hukum dari setiap pendapat dan pemikiran. “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al‐Qur’an) dan Rasul (Hadits).” (An‐Nisaa’: 59).
3. Tidak Menjelekkan
Masing‐masing tetap mempunyai hak yang tidak bisa dihilangkan dan dilanggar, hanya karena tidak sependapat dalam suatu masalah. Di antara haknya adalah nama baik (kehormatan) yang tidak boleh dinodai, meski perdebatan atau perbedaan pendapat semakin meruncing. Wilayah pribadi seperti itu tidak boleh dimasukkan dalam materi perbedaan.
4. Cara yang Baik
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An‐Nahl: 125).
Berdialog harus dengan cara yang baik (menarik) sehingga bisa mendapatkan simpati dan lawan bicara mau mendengarkan kebenaran yang dibawa. Cara seperti ini terhindar dari sikap yang keras dan kaku, jauh dari perkataan yang menyakitkan dan mengundang antipati. Penyeru kebenaran adalah orang yang memenangkan dakwah, bukan kepentingan pribadi. Jika bersikap keras dan kaku, berarti telah mementingkan nafsu pribadi sehingga berakibat orang menjauh dari dakwahnya.
5. Mendalami Nash Syariah dan Pendapat Ulama
Agar dapat keluar dari khilaf dengan membawa hukum yang benar, maka semua nash syariah yang berkaitan dengan masalah itu harus dihimpun. Dengan demikian, persoalan yang umum bisa dijelaskan dengan yang khusus, yang global bisa diperjelas dengan yang terinci, serta yang kiasan bisa dijelaskan dengan yang gamblang.

6. Bedakan antara Masalah yang Sudah Di‐Ijma’ dan yang Diperselisihkan
Masalah‐masalah yang sudah di‐ijma’ (disepakati) sudah tidak perlu lagi diperdebatkan dan dipertanyakan. Komitmen kepadanya merupakan keharusan agama, seperti halnya terhadap Al‐Qur’an dan Hadits.

7. Pertimbangkan Tujuan dan Dampaknya
Orang yang mencari kebenaran kemudian salah, berbeda dengan orang yang memang sengaja mencari kebatilan lalu dia mendapatkannya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala tetap memberikan satu pahala bagi hakim yang memutuskan perkara hukum, namun salah, karena niat dan keinginannya untuk mendapatkan kebenaran. Dan Allah tidak membebankan kewajiban kepada manusia kecuali berdasarkan kemampuannya. (Al‐Baqarah: 286).

Demikianlah beberapa adab yang harusnya dijalankan oleh umat muslim dalam menyikapi segala perbedaan pandangan, termasuk perbedaan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perbedaan justru menjerumuskan kita menjadi umat yang kehilangan akhlaknya, menjadi individu yang gemar mencaci, menghina, memfitnah, dan mencari-cari kesalahan orang lain demi pembenaran diri sendiri. Sesungguhnya apa yang terlihat benar hakikatnya belum tentu benar, begitu juga sebaliknya, oleh karena itu berhati-hatilah.
Wallahu’alam bis showab…

Uwais al Ikhwani

Categories
Kajian Islam

MASJID DAN TANTANGAN UMAT DI MASA DATANG

 

MUKADDIMAH

 

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah:18)

Dalam perjalanan sejarah umat Islam, masjid tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk beribadah dan bersuci, tetapi telah menjadi simbol peradaban Islam. Sejak masa Rasululloh sholallahu ‘alahi wassalam, Masjid Nabawi telah dijadikan oleh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam sebagai sebuah pusat aktifitas umat yang meliputi pusat ibadah, pusat pendidikan dan pengajaran, pusat penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum (peradilan), pusat pemberdayaan umat melalui Baitul Mal, dan pusat informasi. Bahkan di masa Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam, masjid digunakan untuk menerima para tamu atau utusan dari negeri lain yang datang dengan misi diplomatik.

Sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islam, sudah seharusnya masjid memiliki peranan penting dalam menjawab berbagai permasalahan dan tantangan umat dari jaman ke jaman. Saat ini telah muncul kesadaran bagi sebagian umat Islam untuk kembali menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat dengan tujuan meningkatkan kembali nilai spiritualitas di tengah masyarakat muslim yang etika dan moralnya semakin tergerus peradaban barat, serta menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah dan aktifitas sosial umat, sehingga terbangun ukhuwah Islamiyah dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Meskipun demikian, dalam beberapa bagian, tidak jarang juga kita temui, masjid justru dijadikan tempat untuk meruntuhkan ukhuwah itu sendiri, masjid dijadikan tempat untuk mengkotak-kotakan umat, masjid dijadikan basis pengembangan dakwah yang eksklusif yang memandang majelis atau kelompoknyalah yang paling benar, bahkan masjid dijadikan tempat bagi masuknya kepentingan-kepentingan yang bersifat pragmatis. Dampak dari hal ini adalah masjid justru tidak mampu menjalankan peranannya sebagai tempat yang memberikan solusi bagi berbagai problematika dan tantangan umat di masa kini dan masa yang akan datang. Oleh karena itu perlu ditetapkan beberapa fokus dan skala prioritas pengembangan masjid sebagai pusat kegiatan umat yang relevan dengan masalah-masalah umat saat ini dan di masa yang akan datang.

 

MASJID SEBAGAI WAHANA PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT

Kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi merupakan masalah utama yang dihadapai mayoritas umat Islam. Islam sendiri sangat memperhatikan bagaimana keadilan ekonomi dan kepedulian terhadap sesama, sehingga Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan wajib bagi umat Islam untuk menunaikan zakat, menyisihkan rizkinya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Selain zakat yang hukumnya wajib, ada juga infaq dan shodaqoh, dimana tujuannya sama, menyisihkan sebagian rizki. Keberadaan zakat, infaq dan shodaqoh ini yang menjadi alat dalam Islam untuk mengatasi permasalah ekonomi umat, dimana harta yang terkumpul dapat digunakan untuk membantu fakir miskin serta membangun perekonomiannya secara bertahap.

Masjid sebagai sentral kegiatan umat harus mampu mengakomodir secara maksimal pengumpulan zakat, infaq, dan shodaqoh serta mengelola dana tersebut sebagai bagian dari ibadah dan menggunakannya untuk kepentingan umat. Dalam hal ini masjid harus mampu didorong menjadi sentral pengumpulan dana umat sekaligus sentral pengelolaan dana umat berbasis kewilayahan.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, kemampuan manajerial dan etos kerja yang berlandaskan kepada pengabdian dan ibadah perlu ditanamkan dan dilatih secara berkesinambungan bagi para pengelola dana umat di setiap masjid. Pembinaan dan pelatihan kepada para pengelola dana umat ini harus menjadi perhatian para pengurus (Nazir) masjid, sehingga ke depan perlu dilakukan kajian rutin muamalah (ekonomi Islam).

Ketika peran dan kapabilitas pengelola dana umat di tiap masjid telah meningkat secara signifikan, maka pengumpulan dan pengelolaan dana umat dalam mengatasi permasalahan ekonomi umat di sekitar masjid pun akan berjalan secara optimal.

 

MASJID TEMPAT MEMBINA AKHLAK YANG MULIA

Pembangunan akhlak seorang muslim adalah hal penting dalam Islam. Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

 

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Hakim, Shahihul Jaami’ no. 1230)

Kesempurnaan iman tidak akan tercapai tanpa pembangunan akhlak. Keluasan ilmu dan pengetahuan seseorang tentang agama tidak akan berarti apa-apa tanpa terbangunnya akhlak yang baik.

Salah satu bentuk pembangunan akhlak tersebut adalah melalui pengadaan berbagai majelis, mulai dari majelis taklim yang khusus membangun pengetahuan umat tentang agama hingga majelis dzikir yang membangun aspek ruhaniah umat. Pembangunan berbagai majelis dan pengajian tersebut tidak akan mampu berjalan maksimal jika tidak memiliki tempat yang representatif. Dalam hal ini, masjid sebagai pusat ibadah dan aktifitas sosial umat adalah tempat yang paling tepat untuk membangun dan menjalankan berbagai majelis tersebut.

Masjid harus menjadi tempat yang terbuka bagi seluruh majelis dari berbagai madzhab dengan berbagai segmentasi sasaran umat. Labelling atau pelabelan mesjid berdasarkan kelompok dan golongan yang menimbulkan eksklusifitas masjid harus dihindari. Dalam kaitannya dengan ini masjid harus menjadi tempat dimana umat bisa mencontoh akhlak-akhlak yang baik, seperti yang dicontohkan oleh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wassalam.

Dengan demikian masjid-masjid yang masih menjadi tempat untuk menebarkan kebencian dan permusuhan bahkan di kalangan umat muslim sendiri harus segera dirubah. Para ustad dan mubaligh yangs ecara rutin mengisi majelis dan pengajian dalam sebuah masjid haruslah mereka yang memiliki pandangan yang luas tentang universalitas Islam, tentang Islam sebagai rahmatan lil alamin, tentang Islam yang menaungi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam beserta isinya, tentang Islam yang tidak menampilkan akhlak yang buruk dengan menebar kebencian, menjatuhkan dan mengkafirkan sesama muslim. Masjid yang terbuka bagi seluruh kelompok dan golongan inilah yang kemudian mampu menjalankan fungsinya sebagai tempat pembentukan akhlak yang mulia bagi umat.

 

MASJID SEBAGAI TEMPAT MENUMBUHKAN TOLERANSI

Dengan masjid yang bersifat terbuka, maka secara otomatis Islam telah menampilkan sosoknya yang toleran. Seringkali makna toleransi ini kemudian oleh beberapa pihak diartikan secara sempit, diartikan sebagai sikap yang mentolerir keburukan hingga mentolerir penyimpangan aqidah. Dalam pandangan sempit demikian, sikap yang muncul kemudian adalah sikap yang menutup diri, merasa paling benar.

Perbedaan merupakan sunnatulloh, sebuah ketetapan Alloh subhanahu wata’ala, tugas kita sebagai mukmin adalah meyakini dan menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh Alloh subhanahu wata’ala kepada kita dengan sebaik-baiknya. Islam datang tidak dengan paksaan, dan tugas mukmin bukanlah menghakimi mukmin lainnya, seperti yang dinyatakan Alloh subahanhu wata’ala:

 

 وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

 

“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. al-Kahfi: 29).

Membangun sebuah masjid yang terbuka bagi setiap kalangan dan kelompok adalah wujud dari membangun toleransi dalam paradigma Islam, yaitu toleransi yang menghargai perbedaan tanpa mencampur baurkan akidah dan keimanan, tanpa membuat samar yang haq dan yang bathil. Oleh karena itu perlu dipertegas bahwa sudah seharusnya posisi masjid itu netral dari kepentingan-kepentingan jangka pendek kelompok maupun golongan, apalagi kepentingan yang bersifat pragmatis. Masjid harus bisa menaungi seluruh kepentingan tanpa harus bercampur dan berpihak pada salah satu kelompok/golongan.

Beberapa hal prioritas di ataslah yang dapat menjadikan masjid sebagai pusat pembangunan peradaban Islam, dimana masjid dapat menjadi tempat munculnya berbagai solusi bagi setiap permasalahan umat saat ini maupun di masa yang akan datang. Pembangunan masjid dengan model inilah yang akan membawa Islam menuju kebangkitannya.

Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi bahan intropeksi bagi kita semua, sekaligus masukan bagi upaya kita membangun ukhuwah menuju kebangkitan Islam di Indonesia.

Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…

Penulis: Uwais al Ikhwani

Artikel ini telah terbit dalam Buletin Jum’at Al Mujaddid edisi Januari 2018

Categories
Informasi Islam

“ANTISIPASI GESEKAN KEPENTINGAN DIANTARA KELOMPOK DAN ORMAS ISLAM, NAJMUS TSAQIB GELAR DISKUSI DENGAN TEMA UKHUWAH ISLAMIYAH”

Rabu, 03 Januari 2018

Bertempat di Favehotel, Kabupaten Garut, Najmus Tsaqib bekerjasama dengan perwakilan Ormas Islam di Kabupaten Garut menggelar diskusi terbatas dengan tema “Membangun Ukhuwah Islamiyah Diatas Kepentingan Politik dan Kelompok”.

Diskusi ini dilatarbelakangi oleh perkembangan situasi politik yang semakin dinamis memasuki tahun 2018 dan menjelang beberapa momentum politik di Jawa Barat, dimana perkembangan politik lokal dan nasional telah menjebak kelompok-kelompok dan ormas Islam, baik lokal dan nasional dalam sebuah pertarungan kepentingan politik dan kelompok, sehingga nilai-nilai Ukhuwah yang menjadi salah satu nilaid asar dalam Islam semakin terkikis.

Menurut Bagus Setiawan selaku Ketua An Najmus Tsaqib, tujuan dari digelarnya diskusi sebagai media silaturahmi sekaligus riset sosial, adalah untuk mendorong kembali implementasi Ukhuwah Islamiyah dalam konteks pertarungan kepentingan politik dan kelompok. Diskusi ini juga diharapakan dapat mengkampanyekan komitmen bersama untuk menjaga Ukhuwah Islamiyah di atas kepentingan politik dan kelompok.

Hadir sebagai partisipan dalam diskusi tersebut adalah Irfan Apriansyah (PURI Kab. Garut), Fikri Zakaria (Forum Kajian Mahasiswa STTG), Dian Noviar Nugraha (Ketua Pemuda Muhammadiyah Kab. Garut), Zamzam Hamzah (Wakil Ketua Pemuda Muslimin Kab. Garut), Hasbi Shiddiq (Ketua TPPK UNIGA), dan An an Aminah Umar (PMII Kab. Garut).

Dalam diskusi tersebut, seluruh partisipan sepakat bahwa dalam kerangka ukhuwah Islamiyah yang demikian, maka perwujudan ukhuwah Islamiyah tergantung kepada tiga hal, pertama kesadaran untuk membangun toleransi dalam memandang perbedaan dengan mengacu kepada Islam sebagai rahmatan lil alamin. Kedua, membangun komunikasi yang baik diantara kelompok dan ormas Islam dengan mengedepankan tabayyun dan khusnudzon. Ketiga, optimalisasi peran MUI sebagai mediator dalam terjadinya konflik kepentingan diantara kelompok dan ormas Islam.

Di akhir diskusi seluruh partisipan berkomitmen untuk terus mengkampanyekan pembangunan komunikasi yang intensif diantara sesama kelompok dan ormas Islam, meskipun memiliki kepentingan politik/kelompok yang berbeda, dengan mengedepankan persaudaraan Islam dan tabayyun.

(Redaksi An Najmus Tsaqib)