SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN MEMILIH PEMIMPIN

Share

Seringkali kita sebagai muslim dalam menghadapi perkara yang bersifat khilafiyyah/furu’iyah, meski masing‐masing pihak punya pegangan Al Qur’an dan Hadits, masih kita jumpai sikap saling mencaci satu dengan yang lainnya. Dari membid’ahkan pihak yang lain, hingga mengkafirkan. Berbagai caci‐maki bahkan fitnah dan kebohongan pun dilontarkan. Sungguh jauh dari ajaran Islam.

Dalam konteks tahun politik saat ini, umat muslim di Indonesia dihadapkan pada persoalan perbedaan sikap atau pilihan politik dalam memilih pemimpin. Perbedaan tersebut muncul dari adanya perbedaan, pertimbangan dan penilaian masing‐masing dalam melihat sosok pemimpin. Perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin adalah hal yang wajar, apalagi dalam sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia saat ini. Dalam Islam pun perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin adalah sesuatu yang wajar, karena Islam pun mengenal mekanisme musyawarah dalam memilih pemimpin. Musyawarah artinya mengakomodir segala perbedaan pendapat untuk kemudian dicapai kesepakatan bersama atas suatu masalah yang dihadapi.

Perbedaan memilih pemimpin sebagai sesuatu yang wajar, saat ini justru dijadikan ‘senjata’ bagi satu kelompok untuk menyerang kelompok lain yang memiliki pilihan yang berbeda. Hal yang menyedihkan adalah ketika sesama muslim kemudian menyatakan muslim lainnya sebagai munafik atau diragukan keIslamannya jika berbeda pilihan politik. Dalam konteks ini sungguh Islam benar‐benar telah dijadikan komoditas politik dan dieksploitasi secara tidak terkendali demi kepentingan politik.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita mencontoh akhlak Rasulullah S AW dalam menyikapi perbedaan pendapat, termasuk perbedaan dalam memilih pemimpin. Bagaimanakah cara Rasulullah SAW menghadapi perbedaan?
Kecuali menyangkut masalah prinsip akidah dan hal‐hal yang sudah qoth’i, Islam dikenal sangat menghargai perbedaan. Rasulullah SAW mencontohkan dengan sangat indah kepada kita semua. Dalam Shahih al‐Bukhari, Volume 6, hadits no. 514, diceritakan bahwa Umar ibn Khatab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Al‐Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah SAW untuk meminta konfirmasi. Rasulullah SAW membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al‐Qur’an memang diturunkan Allah SWT dengan beberapa variasi bacaan (7 bacaan).
“Faqra’uu maa tayassara minhu,” sabda Rasulullah SAW, “maka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.”

Lihat bagaimana Nabi tidak menyalahkan 2 pihak yang berbeda.
Al‐Imam Al‐Bukhari dan Al‐Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin “Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah SAW
bersabda pada peristiwa Ahzab:
“Janganlah ada satupun yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.”
Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.” Sekali lagi Nabi tidak mencela  salah satu pihak yang berlawanan pendapat itu dengan kata‐kata bid’ah, sesat, kafir, dan sebagainya. Beliau bahkan tidak mencela salah satunya. Masing‐masing pihak punya argumen. Yang shalat Ashar di tengah jalan bukan ingkar kepada Nabi. Namun mereka mencoba sholat di awal waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan RasulNya. Yang shalat belakangan di perkampungan Bani Quraizah juga bukan melanggar perintah sholat di awal waktu. Namun mereka mengikuti perintah Nabi di atas.

Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, “˜aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu (Nabi Muhammad).’ Kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah, Hassan melanjutkan perkataannya. “Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah SAW, jawablah pertanyaanku, ya Allah mudah‐mudahan Engkau menguatkannya dengan Ruh al‐Qudus. Abu Hurairah lalu menjawab, “Ya Allah, benar (aku telah medengarnya). “ (HR. Abu Dawud [4360] an‐Nasa’i [709] dan Ahmad [20928]).
Lihat saat Hassan Bin Tsabit sang penyair tengah melantunkan syair yang memuji‐muji Allah dan RasulNya di Masjid sebelum waktu sholat, Nabi Muhammad tidak melarang atau mencelanya. Beliau bahkan diam mendengarkannya. Seringkali kita temui ada kelompok‐kelompok tertentu yang memvonis bid’ah orang‐orang yang berdzikir atau bersholawat sebelum waktu sholat dengan dalih Nabi Muhammad tidak pernah melakukannya. Memangnya apa yang diperbuat Hassan Bin Tsabit, yaitu bersyair di Masjid sebelum waktu sholat itu pernah dilakukan oleh Nabi? Meski Nabi tidak melakukannya, namun beliau tidak mencaci dengan kata‐kata buruk seperti bid’ah, sesat, dan sebagainya. Bersyair saja dibolehkan oleh Nabi, apalagi kalau berdzikir atau bersholawat!
Khilaf (perbedaan pendapat) di mana pun selalu ada. Di mana pun dan sampai kapan pun. Jika tidak disikapi dengan tepat dan bijaksana, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan perpecahan, permusuhan, dan bahkan kehancuran. Karena itu, Islam memberi arahan bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat di antara kita. Di bawah ini adalah adab-adab yang harusnya dilakukan kaum Muslim yang bisa kita implementasikan dalam menyikapi perbedaan dalam memilih pemimpin:
1. Ikhlas dan Lepaskan Diri dari Nafsu
Kewajiban setiap orang yang berkecimpung dalam ilmu dan dakwah adalah melepaskan diri dari nafsu tatkala mengupas masalah-masalah agama dan syari’ah. Mereka hendaknya tidak terdorong kecintaan mencari ketenaran serta menonjolkan dan memenangkan diri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, orang yang mencari ilmu karena hendak mendebat para ulama, melecehkan
orang‐orang yang bodoh, atau untuk mengalihkan perhatian manusia pada dirinya, maka dia tidak akan mencium bau surga (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah).
2. Kembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW
Ketika terjadi perbedaan pendapat, hendaklah dikembalikan pada Kitabullah dan Sunnah Rasul. Keduanya dijadikan sebagai ukuran hukum dari setiap pendapat dan pemikiran. “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al‐Qur’an) dan Rasul (Hadits).” (An‐Nisaa’: 59).
3. Tidak Menjelekkan
Masing‐masing tetap mempunyai hak yang tidak bisa dihilangkan dan dilanggar, hanya karena tidak sependapat dalam suatu masalah. Di antara haknya adalah nama baik (kehormatan) yang tidak boleh dinodai, meski perdebatan atau perbedaan pendapat semakin meruncing. Wilayah pribadi seperti itu tidak boleh dimasukkan dalam materi perbedaan.
4. Cara yang Baik
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An‐Nahl: 125).
Berdialog harus dengan cara yang baik (menarik) sehingga bisa mendapatkan simpati dan lawan bicara mau mendengarkan kebenaran yang dibawa. Cara seperti ini terhindar dari sikap yang keras dan kaku, jauh dari perkataan yang menyakitkan dan mengundang antipati. Penyeru kebenaran adalah orang yang memenangkan dakwah, bukan kepentingan pribadi. Jika bersikap keras dan kaku, berarti telah mementingkan nafsu pribadi sehingga berakibat orang menjauh dari dakwahnya.
5. Mendalami Nash Syariah dan Pendapat Ulama
Agar dapat keluar dari khilaf dengan membawa hukum yang benar, maka semua nash syariah yang berkaitan dengan masalah itu harus dihimpun. Dengan demikian, persoalan yang umum bisa dijelaskan dengan yang khusus, yang global bisa diperjelas dengan yang terinci, serta yang kiasan bisa dijelaskan dengan yang gamblang.

6. Bedakan antara Masalah yang Sudah Di‐Ijma’ dan yang Diperselisihkan
Masalah‐masalah yang sudah di‐ijma’ (disepakati) sudah tidak perlu lagi diperdebatkan dan dipertanyakan. Komitmen kepadanya merupakan keharusan agama, seperti halnya terhadap Al‐Qur’an dan Hadits.

7. Pertimbangkan Tujuan dan Dampaknya
Orang yang mencari kebenaran kemudian salah, berbeda dengan orang yang memang sengaja mencari kebatilan lalu dia mendapatkannya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala tetap memberikan satu pahala bagi hakim yang memutuskan perkara hukum, namun salah, karena niat dan keinginannya untuk mendapatkan kebenaran. Dan Allah tidak membebankan kewajiban kepada manusia kecuali berdasarkan kemampuannya. (Al‐Baqarah: 286).

Demikianlah beberapa adab yang harusnya dijalankan oleh umat muslim dalam menyikapi segala perbedaan pandangan, termasuk perbedaan dalam memilih pemimpin. Jangan sampai perbedaan justru menjerumuskan kita menjadi umat yang kehilangan akhlaknya, menjadi individu yang gemar mencaci, menghina, memfitnah, dan mencari-cari kesalahan orang lain demi pembenaran diri sendiri. Sesungguhnya apa yang terlihat benar hakikatnya belum tentu benar, begitu juga sebaliknya, oleh karena itu berhati-hatilah.
Wallahu’alam bis showab…

Uwais al Ikhwani

Leave A Reply

*